Review Huawei P10: Bokeh Depan Belakang

Sejak merilis P8 pada April 2015 silam, nama Huawei mulai diperhitungkan sebagai produsen smartphone flagship dengan keunggulan pada sektor kamera. Apalagi ketika Huawei mengumumkan kerjasamanya dengan Leica saat merancang P9 yang terus berlanjut hingga flagship barunya, P10. Sebagus apa smartphone ini?

Kelebihan

Back cover unik. Pengalaman kami mengatakan mayoritas smartphone flagship yang menggunakan material mewah pada bodinya bakal mudah terceplak sidik jari. Tentu saja hal ini menimbulkan kerisihan, apalagi jika tidak menggunakan casing.

Namun kita tidak akan menemui masalah ceplakan sidik jari pada Huawei P10. Pasalnya Huawei merancang bodi belakangnya dengan finishing high gloss dan sandblast. Hasilnya, smartphone terlihat menarik, berkilau, tidak licin, dan tidak kotor oleh ceplakan sidik jari.

Fingerprint multifungsi. Huawei memindahkan sensor sidik jari dari yang tadinya di belakang (Huawei P9), kini menjadi di depan. Sensor ini menyerupai tombol fisik, tapi sebenarnya bukan, karena tidak bisa dipencet.

Sensor ini punya kecepatan luar biasa. Selain itu, selain sebagai pendeteksi sidik jari, juga bisa difungsikan sebagai tombol home atau tombol back hanya dengan menyentuhnya saja. Pengaturan ini ada di dalam menu Navigation key di menu Settings.

Bodi compact. Populasi smartphone kencang dengan bodi bongsor hampir tak terhitung. Tapi populasi smartphone kencang dengan bodi compact sangat sedikit. Karena itulah kami menilai dimensi Huawei P10 yang hanya 14,5 x 7 cm ini sebagai sebuah kelebihan.

Dengan bodi compact, tentunya banyak keuntungan yang didapat. Sebut saja pengoperasian yang jauh lebih mudah dengan satu tangan dan kenyamanan saat dikantongi.

Super ngebut. Huawei P10 datang dengan chipset Kirin 960 buatan Huawei sendiri. Prosesor Kirin 960 ini diduetkan dengan GPU Mali-G71MP8 yang sudah mendukung Vulkan API yang lebih optimal untuk bermain game. Sementara kapasitas RAM dan storage-nya masing-masing 4 GB dan 64 GB.

Kirin 960 sendiri memiliki kinerja setara Snapdragon 821. Anda bisa mengandalkannya untuk bermain game-game berat. Saat kami uji menggunakan AnTuTu Benchmark, skor yang dihasilkan mencapai 135 ribu poin yang artinya memuaskan.

Kamera utama superior. Huawei P10 mendapat peningkatan yang lumayan dibanding P9. Smartphone ini masih menggunakan konfigurasi dual-camera dengan lensa Summarit Leica. Hanya saja resolusinya sudah meningkat dari sebelumnya 12 MP+12 MP kini menjadi 20 MP+12 MP.

Lensa 20 MP punya sensor monokrom, sedangkan lensa 12 MP bersensor RGB. Kedua kamera ini bisa diaktifkan bersamaan dengan mode portrait atau wide aperture. Tujuannya tak lain untuk menghasilkan foto bokeh yang artistik.

Hasilnya tidak perlu diragukan lagi. Kami merasa sangat puas dengan kemampuan kameranya. Baik menggunakan mode auto, mode pro dengan pengaturan lengkap, mode light painting, atau mode wide aperture, hasil jepretannya sangat jarang mengecewakan. Anda bisa melihat beberapa contoh fotonya pada galeri di bawah.

UI menarik. Huawei menyematkan EMUI versi 5.1 berbasis Android 7.0 ke dalam P10. UI ini punya responsivitas dan kestabilan yang sangat baik. Tampilannya pun enak dipandang. Belum lagi ada cukup banyak fitur gesture yang disediakan agar memudahkan penggunaan sehari-hari.

Kekurangan

Kamera depan perlu perbaikan. Selain kamera belakang, kamera depan juga jadi bahan jualan Huawei dalam memasarkan P10. Kamera depannya beresolusi 8 MP dengan aperture F/1.9 dan punya mode portrait untuk memotret bokeh.

Tapi saat kami coba, hasilnya di bawah ekspektasi. Efek blur atau bokeh tidak rapi. Misalnya saja bagian rambut, sebagian ada yang jelas, sebagian lagi ada yang blur. Ya, Huawei perlu meningkatkan kualitasnya. Agar hasilnya maksimal, mungkin Huawei bisa menggunakan dua kamera depan seperti Vivo V5Plus.

Baterai kurang nendang. Huawei P10 dibekali baterai 3.200 mAh dengan teknologi Super Charging. Bisa diisi dari kosong hingga penuh dalam waktu 1 jam 45 menit. Tapi soal ketahanannya, kami kurang puas.

Dengan penggunaan standar internetan dan dua SIM card aktif, rata-rata screen-on-time yang kami dapat antara 3,5-4 jam saja. Padahal baterai Huawei P9 saja bisa hasilkan screen-on-time setidaknya hingga 5 jam.

Kesimpulan

Huawei P10 adalah smartphone mungil dengan kemampuan besar. Pas jika diidentikkan dengan istilah “kecil-kecil cabe rawit”. Hardware di dalamnya sanggup saingi smartphone flagship seperti LG G6 atau Google Pixel. Plus, kameranya merupakan salah satu yang terbaik saat ini di kelas smartphone.

Video review

Galeri foto Huawei P10

Review Huawei P10: Bokeh Depan Belakang | admin | 4.5